Siapa dia?
Dia adalah sosok yang kutemui di pertengahan kelas 10, di masa putih abu-abu yang penuh harapan. Dia adalah cinta pertama di masa dewasaku. Mungkin bagi orang lain, masa itu masih disebut remaja, tetapi dalam pikiranku, saat itu aku merasa sudah dewasa, terlahir dari perbedaan pola pikir yang kualami.
Dia indah, dia sempurna. Bahkan ketika bertemu dengannya, semangatku untuk bersekolah terus tumbuh. Bagiku, aku tidak perlu memilikinya; cukup melihat senyum manisnya yang selalu terukir di wajahnya sudah cukup untuk membuatku bahagia. Aku berbahagia melihatnya bahagia, selalu dan selamanya.
Semesta seolah memberi pertanda akan kehadiran cinta dalam setiap degupan mesra di dadaku. Setiap kali mendengar namanya, memperhatikan dirinya dari kejauhan, atau bahkan menerima pesan singkat darinya, hatiku berbunga-bunga. Semua ini mendebarkan. Meski aku belum tahu bagaimana akhirnya, saat jatuh cinta, rasanya seperti dopamin yang mengalir dalam tubuhku, menggambarkan segala perasaan dalam hari-hari yang ceria.
Sulit rasanya untuk tidak terbawa perasaan ketika kami saling bertukar pesan. Aku sadar, mengendalikan hati bukanlah hal yang mudah. Sering kali, perhatian kecil darinya kuanggap sebagai bentuk cinta yang pasti bukan sekadar untuk teman biasa. Apapun yang berhubungan dengan dirinya, aku akan selalu menyukainya. Dia indah dan selamanya akan tetap indah.
Namun, seperti langit yang indah namun kadang dilanda badai, begitu juga dirimu yang memesona. Mungkin suatu saat, kau akan menjadi sumber lara bagiku. Tapi aku tidak akan pernah menyesalinya, karena aku yang memilihmu untuk ada di hatiku. Sekalipun kamu memiliki hati untuk orang lain, ungkapkanlah perasaanmu. Namun, aku akan tetap menjadi pengagummu, tanpa syarat.
Dimanapun kamu berada, tolong tetaplah baik-baik saja. Tetaplah kuat, dan tetaplah indah seperti biasanya. Doaku selalu sama: aku berharap kamu akan selalu mendapatkan kebahagiaan yang sepadan dengan segala usaha baik yang kamu lakukan. Sosokmu pantas mendapatkan banyak hal baik dalam hidupnya. Dia telah memberiku dunianya, dan aku berharap Tuhan memberikannya kebahagiaan yang lebih banyak lagi. Limpahkanlah banyak kebahagiaan di setiap langkahnya, dan kuatkanlah hati serta pundaknya, sosok yang selalu memendam perasaan. Aku menyayanginya, selalu menyayanginya.
-Meliana Agustin